BI Ungkap Penyebab Kenapa Rupiah Bisa ke Rp 18.000

Bank Indonesia (BI) ungkap penyebab utama nilai tukar Rupiah melemah hingga tembus Rp 18.000 per Dolar AS, dari faktor global hingga domestik.

Jagonya Info - Deny Kurniawan

Jumat, 05 Jun 2026 11:38 WIB

Bagikan: Whatsapp Facebook X Copy Link Link disalin!

Mata uang Rupiah baru-baru ini mengalami tekanan yang sangat signifikan, bahkan menyentuh angka yang mengejutkan banyak pihak. Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) kini terus merangsek naik dan berhasil menembus level psikologis baru, yakni Rp 18.000. Fenomena pelemahan ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat maupun pelaku usaha. Menanggapi situasi ekonomi yang tengah memanas ini, Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara dan membeberkan sejumlah faktor utama yang menjadi pemicu anjloknya nilai tukar Garuda di pasar valuta asing.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengonfirmasi bahwa ada kombinasi antara faktor eksternal atau global serta faktor internal atau domestik yang menekan Rupiah. Dari sisi global, ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu biang kerok utama. Konflik yang tidak kunjung mereda di wilayah tersebut secara langsung mengerek harga minyak mentah dunia. Tingginya harga energi global ini pada gilirannya memicu kekhawatiran akan terjadinya lonjakan inflasi di berbagai negara maju maupun berkembang.

Kekhawatiran terhadap inflasi global tersebut memicu sentimen penghindaran risiko atau risk-off di kalangan investor internasional. Akibatnya, terjadi fenomena penarikan aliran modal keluar (capital outflow) yang cukup masif dari negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Para pemodal asing cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti Dolar AS, yang membuat mata uang Paman Sam tersebut semakin perkasa di kancah global.

Namun, tekanan terhadap Rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Destry juga mengungkapkan bahwa terdapat faktor domestik yang turut membebani pergerakan mata uang kita. Saat ini, tingkat permintaan terhadap Dolar AS di dalam negeri sedang mengalami peningkatan yang cukup tajam. Hal ini sangat erat kaitannya dengan siklus ekonomi tahunan, di mana banyak perusahaan multinasional maupun investor asing yang melakukan repatriasi dividen atau pengiriman keuntungan bisnis kembali ke negara asal mereka.

Selain kebutuhan untuk membagikan dividen, permintaan mata uang asing di dalam negeri juga dipicu oleh jadwal pembayaran Utang Luar Negeri (ULN). Banyak korporasi dalam negeri yang harus memenuhi kewajiban pembayaran utang dalam denominasi Dolar AS pada periode ini, sehingga mereka berlomba-lomba membeli valuta asing di pasar domestik. Meskipun demikian, BI menekankan bahwa pelemahan mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan tren regional. Secara year-to-date (YTD), Rupiah terdepresiasi sebesar 7,44 persen, yang masih sejalan dengan pelemahan mata uang negara-negara tetangga.

Sebagai benteng pertahanan ekonomi, Bank Indonesia tidak tinggal diam melihat fluktuasi ini. BI memastikan ketersediaan cadangan devisa yang sangat memadai, yakni berada di level US$ 146,2 miliar per akhir April 2026. Lebih lanjut, otoritas moneter ini juga telah menyiapkan serangkaian langkah intervensi agar mekanisme pasar tetap berjalan tertib. Intervensi berkesinambungan ini dilakukan melalui transaksi spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri (offshore), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

Sebagai langkah tambahan, BI terus memperkuat daya tarik suku bunga instrumen moneter pro-pasar agar aliran modal asing kembali masuk. Lebih dari itu, BI secara konsisten mendorong solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Skema LCT memungkinkan transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Tren penggunaannya sangat positif, tercatat mencapai US$ 22,7 miliar hingga bulan April. Angka ini melonjak tajam mendekati total transaksi sepanjang tahun lalu yang bernilai US$ 25,7 miliar. Diversifikasi mata uang ini diyakini sangat krusial dalam memitigasi risiko fluktuasi pasar sekaligus menjaga stabilitas fundamental Rupiah dalam menghadapi guncangan perekonomian global.

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

REKOMENDASI UNTUKMU

LIHAT SEMUA →